aku memilih terjangkit amnesia tentang kamu. pilihan yang bijak walau tak bajik untuk semesta, ya! apa peduliku tentang semesta?! aku hanya peduli akan aku masa ini, maka itu aku menjadi amnesia. keseluruhan tentangmu tak ubahnya kubangan hitam tempat kerbau melumpur, atau serupa legamnya kantung mata yang lelah setelah mata ini dipaksakan terus terjaga. keberadaanmu pada waktu lalu adalah kesalahan, meski kesalahan itu selayaknya aku emban sebab tanpanya aku tidak akan pernah mengerti soal kebenaran. singkirkan sejenak tentang pemikiran positif atas kamu, kini aku merangkum kenegatifanmu atasku. sepantasnya seperti itu untuk kesehatanku! sudah aku hapus keberadaanmu pada sudut mataku tiap kali bayanganmu jatuh padaku. bahkan aku pasangkan tirai pembuta mata ketika kamu ada tepat dihadapku. akan tidak sia-sia usahaku, sebab aromamu sudah tak mengesankan seperti hari yang lalu, pudar.. sudah pudar. kesimaku akan tingginya kamu tak sebanyak kemarin dan akan terus menipis ketika aku bersua dengan sang lusa. kamu eros, bukan platonis! tak heran bila mudah terkikis. [dari sumberku]
Read more
About me
Network
Blog
DIsalahkan?
0 commentsKarena memang "mungkin" melakukan kesalahan yang tidak disadari. Tapi dimana salahnya?
Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat mengganggu walaupun tidak dipikirkan, tapi terpikir. Benar-benar sangat mengganggu!! Satu hari penuh satu bungkus rokok habis untuk mencari-cari dimana letak kesalahan yang tak sengaja hingga dapat membuat seseorang berubah sikap 180 derajat miringnya. Hmm... belum ketemu juga. Kalau sebuah keyakinan yang disalahkan, itu melanggar hak dasar sebagai manusia. Keyakinan itu kan ga bisa diganggu gugat oleh siapapun, walaupun itu orang tua sendiri.
Berpikir ulang... Ah sudahlah, kenapa aku berpusing-pusing ria. Biar orang lain menyetempel dijidat tulisan "BERSALAH" tapi kalau pada kenyataan menurut perasaan "mungkin" tidak bersalah untuk apa dibingungkan. Toh mungkin orang itu hobinya mencari kesalahan orang lain, tapi kesalahan sendiri dia tidak sadar. xxx
Read more
Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan yang amat sangat mengganggu walaupun tidak dipikirkan, tapi terpikir. Benar-benar sangat mengganggu!! Satu hari penuh satu bungkus rokok habis untuk mencari-cari dimana letak kesalahan yang tak sengaja hingga dapat membuat seseorang berubah sikap 180 derajat miringnya. Hmm... belum ketemu juga. Kalau sebuah keyakinan yang disalahkan, itu melanggar hak dasar sebagai manusia. Keyakinan itu kan ga bisa diganggu gugat oleh siapapun, walaupun itu orang tua sendiri.
Berpikir ulang... Ah sudahlah, kenapa aku berpusing-pusing ria. Biar orang lain menyetempel dijidat tulisan "BERSALAH" tapi kalau pada kenyataan menurut perasaan "mungkin" tidak bersalah untuk apa dibingungkan. Toh mungkin orang itu hobinya mencari kesalahan orang lain, tapi kesalahan sendiri dia tidak sadar. xxx
Langganan:
Postingan (Atom)